Berdagang itu lebih baik daripada menjadi Pegawai

Judul diatas saya kutip dari tulisan Dr. ‘Aidh al-Qarni, seorang penulis Timur Tengah, dalam bukunya La Tahzan (Jangan Bersedih) yang telah menjadi best seller. Tulisan itu sekilas terlihat sederhana dan kurang bermakna, padahal jika kita telaah lebih jauh maknanya sangat dalam sekali. Sebuah ajaran spiritual dan kultural mengenai pentingnya suatu kewirausahaan yang dikemas hanya dalam satu kalimat tanpa bermaksud menggurui. Satu kalimat sederhana itulah yang saya cuplik untuk memberi judul tulisan yang sedang Anda baca ini.

Sebenarnya setiap orang telah dibekali dengan kemampuan khusus sejak lahir. Inilah yang disebut dengan bakat alam. Dan bakat alam yang universal dimiliki setiap manusia adalah kemampuannya untuk mempertahankan hidup. Sejarah telah membuktikan bahwa dulu nenek moyang kita itu hidup dari berburu dan meramu. Setelah itu mereka mencapai tahap yang lebih tinggi lagi yakni barter barang. Inilah cikal bakal perdagangan yang sekarang telah berkembang sangat pesat dengan komoditi nyata maupun maya.

Jadi berdagang itu sebenarnya merupakan insting alamiah manusia. Sejak lahir ia sudah dikaruniai kemampuan itu untuk mempertahankan hidupnya termasuk dengan cara berdagang. Namun dalam perkembangannya, faktor tempat tinggal serta budaya lokal telah mempengaruhi kemampuan tersebut. Khusus di Indonesia, pengaruh pendudukan bangsa asing di negeri ini selama ratusan tahun ternyata juga berpengaruh terhadap kemampuan alamiah kita dalam mengembangkan perdagangan.

Sebenarnya jika kita cerdas, kita tahu bahwa bangsa kita itu dulu kalah bersaing dengan bangsa-bangsa barat, sehingga harus menerima nasib paling pahit, yakni dijajah. Cobalah tengok, bangsa-bangsa barat yang menduduki Indonesia ini kan semuanya pedagang. Mereka mengangkut rempah-rempah untuk pasaran Eropa. Kita terlambat belajar karena mudah terpesona dengan sesuatu yang baru. Kelemahan ini ditangkap oleh bangsa-bangsa barat yang cara berpikirnya lebih rasional sehingga masuklah politik mereka untuk menguasai seluruh kekayaan negeri kita.

Untuk melanggengkan kekuasaan dalam bidang perdagangan, politik yang diterapkan oleh bangsa-bangsa barat adalah dengan menanamkan budaya anti-dagang. Akhirnya rakyat kita disuruh tanam paksa dan diiming-imingi jabatan elit sebagai pembantu mereka di pemerintahan. Kita terpesona dengan hal itu, apalagi kita ini selalu tidak bisa lepas dari romantika masa lalu. Kita lengah, bahwa Kutai, Samudra Pasai atau Sriwijaya itu menjadi besar bukan karena rajanya, tapi karena perdagangannya. Setelah disosialisasikan selama beratus-ratus tahun dan beberapa generasi berlalu, akhirnya politik kolonial itu menuai sukses besar.

Mereka tidak kuatir lagi tersaingi oleh orang pribumi dalam hal perdagangan sehingga mereka dapat menguasai perdagangan rempah-rempah dari Asia ke Eropa. Orang pribumi merasa lebih terhormat menjadi pegawai pemerintah daripada pedagang. Kacaunya lagi, budaya kolonial ini masih terus dilestarikan oleh generasi-generasi masa kini, generasi pasca kemerdekaan. Mau bukti? Lihat saja tayangan sinetron-sinetron kita yang selalu menggambarkan bahwa pengusaha itu orang yang berlimpah harta tetapi penuh konflik. Lihat juga kurikulum pendidikan kita yang selalu berkutat di teori-teori basi daripada meningkatkan kemampuan peserta didik untuk mandiri. Lihat juga peran pemerintah yang bangga menjadi pengekspor tenaga kasar daripada mencetak anak bangsanya untuk berdikari.

Jikalau kamu ingin menjadi raja, caranya sangat mudah. Jadikanlah sebanyak mungkin orang menjadi pegawaimu. Pegawai akan mendatangkan upeti untuk kita, apapun ketentuan undang-undangnya! (Ekotama, Agustus 2009)

Akibatnya bisa Anda lihat sendiri. Berapa jumlah konglomerat pribumi dari seluruh populasi pengusaha di Indonesia? Kurang dari 1%, Bung! Sedangkan pengusaha-pengusaha kelas kecil dan menengah yang jumlahnya lebih dari 90% itu kesulitan berkembang karena kekurangan dukungan dari pemerintah sendiri, dukungan kultural dan dukungan sosial. Mau bukti? Berapa persen dana yang dikucurkan bank di Indonesia untuk pengusaha kecil menengah dibandingkan dengan kucuran kredit untuk perusahaan besar?

Nah, dari sini sebenarnya saya mengajak Anda sekalian untuk berpikir dan mengambil rencana aksi. Jangan terbelenggu oleh sejarah! Jangan terbelenggu oleh sistem pembodohan ala kolonial yang masih membudaya di negara kita! Jangan mau jadi jongos! Jadilah tuan di negeri sendiri. Mulailah dari sekarang dengan mendidik anak-anak Anda supaya kelak menjadi pedagang besar yang sukses, bukan menjadi pegawai pemerintah.

Berdagang jaman sekarang itu lebih mudah, karena apa saja bisa diperdagangkan. Sebagai contoh, pada saat Anda membaca tulisan ini, berarti Anda telah membeli barang dagangan saya. Ya! Saya berdagang tulisan, karena barang yang bisa saya hasilkan adalah tulisan. Jika Anda hanya bisa menjual setangkai bunga dari halaman rumah Anda, juallah setangkai bunga itu dan tanamilah halaman rumahmu dengan bunga lain supaya esok hari Anda masih bisa menjual bunga lebih banyak lagi. Masih ingat booming anthurium tempo hari? Bayangkan, lima lembar daun dibayar dengan mobil Honda Jazz! Itulah perdagangan, jika Anda mampu memahaminya.

Mulailah dari yang paling sederhana, dari barang atau jasa yang ada disekitar Anda. Kalau tetangga Anda akan menjual mobil, jualkanlah mobil itu secepatnya dengan harga bagus, bukankah Anda akan mendapatkan fee dari situ. Kalau Anda tekun, lama kelamaan Anda bisa memiliki toko jual beli mobil sendiri. Anda bisa punya anak buah, penghasilan Anda bisa berkali-kali lipat daripada penghasilan pegawai. Bukankah itu lebih terhormat? Tidak salah kalau Dr. ‘Aidh al-Qarni mengatakan bahwa berdagang itu lebih baik daripada menjadi pegawai.

(Artikel ini ditulis Suryono Ekotama pada tanggal 4 Februari 2008 & pernah dikirimkan ke Majalah Wirausaha & Keuangan). Sumber: ini dengan sedikit editing Farid dan gambar dari Flickr.

Leave a comment

Filed under Inspirasi baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s